Masjid Kali Pasir Saksi Perkembangan Islam Banten

Lis Pratiwi    •    08 Juni 2017 04:00 WIB
Masjid Kali Pasir Saksi Perkembangan Islam Banten
Tampak depan Masjid Jami Kali Pasir, Tangerang. Foto: MTVN/Lis Pratiwi

Metrotvnews.com, Tangerang: Banten merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang kental akan ajaran Islam. Salah satu bukti perkembangan Islam di Banten adalah Masjid Jami Kali Pasir di kawasan Pasar Lama, Kota Tangerang.

Menurut Achmad Sjairodji, Dewan Pengurus Masjid Kali Pasir, masjid ini berdiri sejak tahun 1608 dan dibangun oleh seorang pangeran dari Kahuripan Bogor. Pangeran tersebut berniat menyiarkan Islam dari Kesultanan Cirebon ke wilayah Banten.

Sjairodji menuturkan, saat tiba di Banten sang pangeran singgah ke patilesan atau tempat pertapaan milik Ki Tengger Jati dari Galuh Kawali di Kerajaan Pasundan. Ki Tengger Jati sendiri saat itu sudah memiliki pertapaan di kawasan tersebut sejak tahun 1600-an.

Dari tempat pertapaan itu, dibangunlah masjid kecil tahun 1608 sebagai cikal bakal Masjid Kali Pasir. Pun demikian dengan wilayah patilesan Ki Tengger Jati yang akhirnya berubah nama menjadi Jalan Kali Pasir.

“Awalnya dibuat tiangnya dari batang kelapa dan atapnya dari pohon kelapa,” kata Sairodji kepada Metrotvnews.com, Rabu 7 Juni 2017.

Pada tahun 1612 kepengurusan masjid dari Pangeran tersebut diteruskan kepada putranya yaitu Tumenggung Pamit Wijaya. Pada masa kepengurusan Tumenggung Pamit Wijaya tiang dari pohon kelapa diganti menjadi pohon jati hingga sekarang.

“Dia (Tumenggung Pamit Wijaya) ini yang membesarkan masjid. Di sinilah mulai ada tiang penyangga ini,” tambah Sairodji.


Tiang penyangga Masjid Jami Kali Pasir di kawasan Pasar Lama, Kota Tangerang. Foto: MTVN/Lis Pratiwi

Selanjutnya, pada tahun 1917 masjid diurus oleh putra Tumenggung Pamit Wijaya, yakni Raden Uning Wiradilagi. Di tahun 1740, digantikan kembali oleh cucu Tumenggung Pamit Wijaya, Tumenggung Aria Ramdon.

Perkembangan selanjutnya, kepengurusan masjid jatuh kepada putra Tumenggung Aria Ramdon, yakni Tumenggung Aria Sutadilaga di tahun 1780. Kemudian berlanjut pada 1830 oleh Raden Aria Idar Dilaga.

Kepengurusan masjid diteruskan kembali oleh putri Raden Aria Idar Dilaga, yakni Nyi Raden Djamrut dan suaminya Raden Abdullah sampai tahun 1904. Setelah itu, kepengurusan dipegang oleh putra mereka, yakni Raden Jasin Judanegara.

Pada masa ini, Masjid Jami Kali Pasir mengalami renovasi besar dengan membangun sebuah menara di depannya. Uniknya, arsitektur menara ini justru mirip dengan pagoda yang menjadi ciri khas budaya Tionghoa.


Menara Masjid Jami Kali Pasir, Tangerang, terlihat dari pemukiman warga. Foto: MTVN/Lis Pratiwi

“Jadi pada waktu ada renovasi tahun 1904 menara ini baru dibuat, dirombak lagi tahun 1959 sampai sekarang,” tambah Sjairodji.

Perkembangan Islam di Masjid Kali Pasir juga tak dapat dipisahkan dari sosok Hajah Murtapiah, pengasuh pesantren pertama di Banten dan Jawa Barat. Menurut Sjairodji, hinga kini Hajah Murtapiah masih ditokohkan di kawasan tersebut.

“Dulu Hajah Murtapiah mengajinya juga di sini (Masjid Kali Pasir), meskipun pesantrennya tidak bertahan tapi masjidnya Alhamdulillah,” tambah Sairodji yang masih keturunan Hajah Murtapiah.

Kendati berusia ratusan tahun, masjid ini masih terus difungsikan untuk ibadah salat lima waktu berjamaah. Terlebih saat Ramadan, kian banyak warga yang berkunjung untuk ibadah salah tarawih, itikaf, atau ziarah ke makam di dekat masjid.


Makam pendiri Masjid Jami Kali Pasir, Tangerang, yang berlokasi di kawasan masjid. Foto: MTVN/Lis Pratiwi
(SUR)