Ngabuburit di Masjid Tertua di Kota Bandung

Antara    •    15 Juni 2016 13:52 WIB
masjid
<i>Ngabuburit</i> di Masjid Tertua di Kota Bandung
Batu penanda di Masjid Mungsolkanas, Bandung. (Foto: Infobdg)

Metrotvnews.com, Bandung: Menunggu waktu berbuka puasa atau ngabuburit bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya mengunjungi masjid Mungsolkanas, masjid tertua di Bandung, Jawa Barat.

"Kalau bulan Ramadan, ada buka bersama, bincang ramadan, ngabuburit anak-anak, pesantren kilat, tadarus, lomba dan pameran publik serta zakat, infaq dan shodaqoh bulan Ramadan," kata Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Mangusolkanas, Haris M Lubis, Rabu (15/6/2016).

Sepintas, warga tidak akan mengira bangunan masjid tiga lantai yang didominasi warga cokelat muda ini adalah masjid tertua yang ada di Kota Bandung. Penanda bahwa masjid ini adalah masjid tertua di Kota Bandung adalah sebuah batu berwarna hitam yang berada di teras masjid bertuliskan Masjid Mungsolkanas, Berdiri Tahun 1869.

Nama Mungsolkanas, kata Haris, merupakan kepanjangan dari Mangga Urang Ngaos Sholawat Ka Kanjeng Nabi SAW atau Mari Kita Mengaji dan Bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Ia menjelaskan masjid yang sudah ada sejak tahun 1869 ini didirikan oleh R Suradimadja alias Abdurrahim yang dikenal dengan nama Mama Aden.

"Tanahnya milik Lantenas yang masih saudara dengan Mama Aden, lalu diwakafkan untuk membuat tempat ibadah," kata dia.

Menurut dia pada 1993 nama masjid hendak diganti dengan nama pendirinya, Ar-Rahim. Tapi sebagian masyarakat dan keluarga dari Mama Aden tidak setuju. "Makanya namanya dipertahankan," kata Haris.

Ia mengatakan, masjid yang sudah berdiri sejak 147 tahun ini sudah mengalami tiga kali renovasi yakni pada 1956, mengganti bentuk masjid dari sebuah musala berbentuk rumah panggung dari bambu menjadi masjid bertembok.

"Kedua tahun 1993, dan ketiganya tahun 2009 sambil membuat menara masjid," ujar dia.

Haris menambahkan, saat renovasi ada barang-barang peninggalan dulu yang hilang.

"Mungkin para pekerja lupa menyimpannya dimana, jadi barang-barang seperti pentungan, dan bedug peninggalan Mama Aden hilang, ada sebagian yang dibawa oleh keluarganya," kata dia.

Saat ini, lanjut dia, salah barang peninggalan zaman dahulu yang masih ada di Masjid Mungsolkanas ialah sebuah Alquran. Wujud Alquran yang ada di masjid tersebut ditulis tangan, dan hanya ada titik sebagai penanda wakaf ayat dan ditulis oleh warga bernama Zakaria.

Keberadaan Alquran yang diletakkan di lantai dua masjid tersebut menjadi perhatian jika warga pertama kali mengunjungi Masjid Mungsolkanas.

Ia menambahkan, untuk kegiatan sehari-hari masjid ini seperti masjid pada umumnya dan dirinya berharap, orang-orang yang berkunjung ke Masjid Mungsolkanas setidaknya ingat dengan Salawat kepada Nabi Muhammad SAW, sesuai dengan nama masjid.

"Semoga kedepannya namanya tetap Mungsolkanas, serta kelestarian dari masjid tua ini tidak luntur," pungkasnya.



(MEL)