Bupati Kudus Manfaatkan Masjid Untuk Edukasi Media Sosial

Whisnu Mardiansyah    •    08 Juni 2017 01:02 WIB
media sosial
Bupati Kudus Manfaatkan Masjid Untuk Edukasi Media Sosial
Bupati Kudus Musthofa Wardoyo sedang memberikan edukasi media sosial. Foto: Istimewa

Metrotvnews.com, Jakarta: Fatwa Majelis ulama Indonesia (MUI) tentang penggunaan media sosial membuka mata banyak pihak. Urusan membangun kesadaran menggunakan media sosial untuk kebaikan perlu peran ulama dan infrastruktur agama.

Di Kudus, Jawa Tengah masjid ternyata juga menjadi tempat untuk mengedukasi masyarakat tentang berbagi kebaikan di media sosial.  Cara tersebut ditempuh oleh Bupati Kudus Musthofa Wardoyo selama bulan Ramadhan.

Setiap malam sejak hari pertama puasa, Musthofa berkeliling ke masjid di seantero Kudus untuk salat tarawih bersama. Usai tarawih, ia mendengarkan keluhan warga sekaligus memberikan wejangan untuk kemajuan Kudus.

Menariknya, ajakan untuk menggunakan media sosial untuk tujuan baik tak pernah luput disampaikan oleh Musthofa.

“Media sosial memiliki banyak sekali manfaat. Jangan membelokkan manfaat media sosial menjadi alat untuk menyebarkan kebencian dan merusak kemanusiaan,” kata Musthofa di masjid Baitul Mukminin, desa Klumpit, Kudus beberapa waktu lalu.

Musthofa juga mengingatkan bahwa nabi Muhammad SAW mengajarkan umatnya untuk untuk iqra (membaca) dan tabayyun (mencari tahu). Menjadi umat yang cerdas adalah kewajiban setiap umat Islam.

Ia menambahkan, kebebasan berekspresi yang ada di media sosial bukan berarti memiliki hak tanpa batas untuk menyebarkan apapun. Menebar kebencian bukanlah hal yang layak dilakukan di media sosial.

Pasalnya, setiap ungkapan kebencian harus akan dibayar mahal oleh rusaknya penghormatan terhadap hak dan merusak kemanusiaan.

“Kemajuan teknologi telah memberikan kebebasan dan kecerdasan melampaui yang kita inginkan. Namun harus diingat ada hal yang lebih penting dari teknologi dan kecerdasan, yakni empati dan kemanusian,”lanjut Musthofa.

Kebebasan berekspresi sepatutnya membuka ruang berdiskusi. Sedangkan ungkapan kebencian akan memicu kekerasan. Kebebasan berekspresi adalah sebuah tanggung jawab setiap individu.


(SUR)