Jabal Nur, Masjid Tertinggi di Jawa Saksi Perkembangan Islam di Lereng Bromo

Meilikhah, Kumbang Ari    •    09 Juni 2016 11:17 WIB
masjid
Jabal Nur, Masjid Tertinggi di Jawa Saksi Perkembangan Islam di Lereng Bromo
Masjid Jabal Nur. (FOTO ANTARA/Cucuk Donartono)

Metrotvnews.com, Jakarta: Jabal Nur, itulah nama sebuah masjid yang terletak di Dusun Gedok, Desa Argosari, Sendoro, Lumajang, Jawa Timur. Masjid ini diklaim sebagai masjid tertinggi di Jawa lantaran berada di antara lereng gunung Semeru dan Bromo.

Masjid Jabal Nur awalnya merupakan musala berukuran 5x5 meter berdinding papan dan beratap karung. Namun sejak dibangun kembali oleh mualaf Suku Tengger pada 2009 lalu, bangunan musala sudah berubah wujud menjadi masjid.

Desain masjid dibuat minimalis modern dengan kubah besar di atasnya, sementara bagian tangga dibuat berundak. Masjid ini sedikitnya mampu menampung sekitar 50 orang. 

Melansir wakafquran.org, seorang pria bernama Haji Matro'i menjadi saksi sejarah perkembangan Islam di wilayah tersebut. Pada 1997, Pimpinan TPA Nurul Huda, Desa Pasrujambe, Lumajang, itu membulatkan tekad menyebarkan Islam ke wilayah Argosari.

Lokasi Argosari yang berada pada ketinggian 3.000 mdpl itu memaksa Haji Matro'i mengayuh sepedanya menuju lokasi. Sayang, mendekati wilayah Argosari, sepedanya tak mampu lagi dikayuh lantaran jalan hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki. 

Awalnya, Haji Matro'i tak langsung mengenalkan Islam kepada masyarakat Argosari. Pengetahuannya tentang pertanian ia tularkan lebih dulu kepada masyarakat sebagai pintu pembuka untuk mengajarkan Islam. Perlahan tapi pasti, Haji Matro'i mengenalkan bahwa Islam tak mengenal perbedaan, yang membedakannya hanya ketakwaan.

Pengenalan Islam oleh Haji Matro'i perlahan membuahkan hasil. Hingga sekitar tahun 2000, lelaki kelahiran 1939 itu membangun musala Jabal Nur di Dusun Gedok dengan kapasitas 50 orang. Di sana, Haji Matro'i mengajarkan salat, membaca Alquran, dan fikih.

Usaha Haji Matro'i membuat warga Argosari mengenal Islam dan memeluknya. Pada 2010, sedikitnya 300 dari 3000-an warga suku Tengger Argosari memeluk Islam, yang pada awalnya beragama Hindu.


(MEL)