Bubur Lodeh dan Filosofi yang Diajarkan Para Wali

Patricia Vicka    •    14 Juni 2016 08:49 WIB
tradisi ramadan
Bubur Lodeh dan Filosofi yang Diajarkan Para Wali
Bubur lodeh. (Foto: MTVN?Patricia)

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Setiap daerah memiliki tradisi berbuka puasa yang berbeda-beda. Di Daerah Istimewa Yogyakarta ada sebuah tradisi buka puasa unik yang sudah ada sejak zaman Wali Songo.

Setiap Jumat sore, warga di Desa Kauman Wijirejo, Dusun Pandak, Bantul, Yogyakarta, berbuka puasa bersama dengan bubur lodeh peninggalan para wali di Masjid Sabiilurrosyaad.

Masjid ini dibangun oleh Panembahan Bodho, murid Sunan Kalijaga pada abad ke-15. Ia adalah ulama besar yang diutus oleh Sunan Kalijaga untuk menyebarkan agama Islam ke Bantul. Ia kemudian menyatukan agama Islam dengan budaya Jawa agar mudah diterima warga, salah satunya dengan mengadakan buka puasa bersama dengan bubur lodeh.

Sekretaris Takmir Masjid Sabilurrosyaad, Haryadi, menjelaskan, bubur dipilih sebagai santapan berbuka puasa karena mengikuti tradisi para wali yang berasal dari Gujarat Arab.

"Makanan para Wali di Gujarat itu bubur. Maka tradisi menyantap bubur merupakan amanah para Wali. Kalau di Solo ada bubur Samin. Kalau di tempat kami namanya bubur lodeh," jelasnya, di Yogyakarta, Jumat (10/6/2016).

Tak hanya sekedar berbuka puasa, ada empat makna dan pesan yang hendak disampaikan para wali melalui tradisi menyantap bubur lodeh ini.

"Bubur berasal dari kata bibirin yakni hal yang bagus. Artinya bahwa di masjid ini (masjid peninggalan Panembahan Bodho) tidak hanya sekedar mendapatkan bubur yang di makan, tapi suatu hal yang bagus atau bibirin," jelas Haryadi.

Kedua, berasal dari kata beber, artinya di masjid ini juga akan di beberkan, dijelaskan ajaran agama Islam. Ketiga, babar sama halnya dengan bubur yang efektif bisa babar untuk orang banyak, yakni ajaran agama Islam itu juga harus babar bisa berlaku untuk semua kalangan tua, muda, besar, kecil.

Keempat, bubur artinya menyatu, harapanya di masjid ini ajaran agama Islam bisa menyatu dengan masyarakat atau umatnya. Tradisi ini hanya dijalankan setiap hari Jumat sore.

Sejak pagi, masyarakat saling membantu memasak bubur lodeh. Sore harinya mereka menata ratusan bubur lodeh yang sudah dimasukkan ke dalam piring-piring untuk dibagikan saat berbuka puasa.

Sepiring bubur lodeh terdiri dari bubur nasi, sayur lodeh yang ditambahkan dengan krecek pedas dan daging ayam. Rasanya gurih, pedas, manis, asin berpadu dengan sempurna dengan lembutnya bubur berwarna putih.

Salah seorang warga Riski Julia Vany (16), mengaku senang mengikuti buka puasa bersama ini. Riski mengatakan sudah tiga tahun mengikuti tradisi ini.

"Walau bukan orang Yogyakarta asli saya senang ikut bukber ini. Rasanya bisa lebih dekat dengan tetangga dan lebih kekeluargaan dibanding buka puasa dirumah," katanya.


(MEL)