Jejak Timur Tengah di Tanah Condet

Nur Azizah    •    02 Juni 2017 15:04 WIB
ramadan 2017
Jejak Timur Tengah di Tanah Condet
Masjid Al-Hawi didirikan pada 1926. Foto-foto: Metrotvnews.com/Nur Azizah

Metrotvnews.com, Jakarta: Masuk ke Jalan Raya Condet, Jakarta Timur, semerbak parfum khas Arab langsung menusuk hidung. Tak jauh dari gang jalan, puluhan kedai bibit parfum sudah menyambut. Botol plastik hingga kaca berwarna-warni dipajang rapi jali.

Semakin ke dalam, berjajar toko perlengkapan busana muslim seperti kopiah, sarung, celana panjang, hingga gamis. Biasanya para penjual melengkapi toko mereka dengan menjual Alquran, tasbih, sajadah, dan obat-obatan herbal. Jalan yang tak terlalu lebar itu juga dijajaki pedagang 'rokok' Arab atau shisha.

Karena nuansa Timur Tengah yang begitu kental, tak heran bila tanah Condet disebut sebagai Kampung Arab. Apalagi pertumbuhan warga asli dan warga keturunan Arab di sana semakin bertambah.

Mukhsin bin Muhammad bin Al-Hadad contohnya. Pria berusia 62 tahun ini merupakan cucu Habib Muhammad bin Ahmad Alhaddad. Nama yang disebut terakhir merupakan ulama termansyur di tanah Condet. Namanya terkenal sebagai pendiri masjid Al-Hawi.

"Masjid al-Hawi didirikan oleh kakek saya Habib Muhammad bin Alhaddad," kata Mukhsin kepada Metrotvnews.com di Jakarta Timur, Jumat, 2 Juni 2017.

Toko parfum di Condet

Bila dilihat sekilas, tak ada yang istimewa dengan masjid Al-Hawi. Arsitekturnya sama seperti masjid umumnya. Tapi, siapa sangka masjid dua lantai ini menyimpan banyak sejarah.

Terpencar

Masjid Al-Hawi didirikan pada 1926. Masjid ini menjadi masjid yang sering disinggahi para ulama besar. Tak hanya dari dalam dan luar kota, bahkan ulama dari luar negeri.

Sebut saja ulama tersohor asal Yaman, Habib Umar Bin Habaib dan Habib Zain bin Smith. Agar lebih kental dengan nuansa Arab, bangunan tersebut sengaja dicat hijau, warna kesukaan Nabi Muhammad.

Toko pakaian muslim

Seiring waktu warga keturunan Arab di Condet berpencar. Menurut Mukhsin, mereka tak berkonsentrasi dalam satu tempat. "Sebenarnya enggak ada yang benar-benar ada satu kampung yang isinya orang Arab atau keturunan Arab semua," ujarnya.

Bicara tradisi saat bulan Ramadan, tak ada yang berbeda apa yang dilakukan warga keturunan Arab dengan warga pribumi. Siang hari biasanya diisi tadarus Alquran dan malam hari salat tarawih bersama.

"Sama saja sih, enggak ada yang beda. Paling nanti pas tanggal 23 Ramadan. Kami ada makan nasi kebuli," ujar Mukhsin.


(UWA)