Penyebaran Islam dan Awal Mula Nama Karimunjawa

Rhobi Shani    •    27 Juni 2016 12:39 WIB
ramadan 2016
Penyebaran Islam dan Awal Mula Nama Karimunjawa
Adegan Amir Hasan belajar ilmu agama dengan Sunan Muria dalam pementasan legenda Karimunjawa oleh Jaringan Pekerja Seni Jepara. (Rhobi Shani/Metrotvnews.com).

Metrotvnews.com, Jepara: Sebagai salah satu destinasi pariwisata andalan di Jawa Tengah, kepulauan Karimunjawa di Kabupaten Jepara tidak hanya menawarkan wisata melalui keindahan alamnya, melainkan juga mengandung potensi wisata religi dan sejarah. Pasalnya di perbukitan Dukung Nyamplungan Desa Karimun kepulauan itu terdapat situs bersejarah berupa makam Sunan Nyamplungan.
 
Ketokohan Sunan Nyamplungan dianggap berperan dalam penyebaran aagama Islam di Karimunjawa. Sosok bernama lain Amir Hasan merupakan murid Sunan Muria, salah satu anggota dewan  dakwah Walisongo.
 
“Setelah cukup ilmu keagamaannya, Amir Hasan diutus gurunya untuk menyebarkan Islam di sebuah pulau yang tampak kremun-kremun (samar-samar) dari Gunung Muria,” ujar tokoh muda di desa setempat Srianto, Senin (27/6/2016).
 
Berangkatlah Amir Hasan ke pulau tujuan. Penyebutan kremun-kremun itu kemudian masyhur disebut Karimun. Amir Hasan menuntaskan tugas yang diperintahkan Sunan Muria di hingga akhir hayat. Tokoh itu kemudian dimakamkan di perbukitan Dukuh Nyamplungan.
 
“Amir Hasan sendiri merupakan anak dari Sunan Kudus. Karena waktu remaja nakal, maka Sunan Kudus meminta Sunan Muria untuk mendidiknya,” ujar Srianto.
 
Karena peran Sunan Nyamplungan di Karimunjawa itulah maka makamnya tak pernah sepi dikunjungi peziarah. Mereka berdatangan dari sekitar maupun luar Karimunjawa.
 
Dari pelabuhan Karimunjawa, waktu tempuh menuju makam Sunan Nyamplungan 15 menit perjalanan darat ke arah utara. Tiba di dukuh Nyamplungan, para pezairah masih harus berjalan kaki selama 10 menit.
 
“Tapi sekarang jalan ke makam sudah bagus, sepeda motor dan mobil sudah bisa naik,” kata dia.
 
Meski menjadi target kunjung wisatawan, namun nuansa Islami di Karimunjawa masih terasa kental dan terjaga. Wisatawan yang berkunjung ke Karimunjawa pun harus menyesuaikan budaya setempat, terutama dari segi kesopanan melalui pakaian yang dikenakan.
 
“Dulu masih ada turis asing yang berjalan dari laut ke tengah-tengah warga hanya pakai bikini. Sekarang kami anjurkan untuk memakai kain penutup, karena kalau lewat di tengah-tengah permukiman yang melihat tidak hanya orang dewasa tetapi juga anak-anak,” ujar Srianto.  


(SBH)