Jejak Kerajaan Pajang di Masjid Laweyan Solo

Pythag Kurniati    •    20 Juni 2016 14:38 WIB
ramadan 2016
Jejak Kerajaan Pajang di Masjid Laweyan Solo
Metrotvnews.com, Surakarta: Mesjid Laweyan yang berada di sudut Kampung Batik Laweyan ini merupakan mesjid tertua di Kota Surakarta, Jawa Tengah. Mesjid ini didirikan oleh Ki Ageng Henis dimasa Kerajaan Pajang dengan rajanya Sultan Hadiwijaya atau Jaka Ti

Metrotvnews.com, Solo: Sejarah masuknya agama Islam ke tanah Jawa ratusan tahun silam masih tergurat dalam arsitektur masjid yang terletak di Jalan Liris Kelurahan Pajang Kecamaan Laweyan Kota Surakarta alias Solo, Jawa Tengah. Masjid Laweyan yang bergaya Jawa dengan nuansa warna hijau itu diyakini menjadi simbol kejayaan Islam di masa kerajaan Pajang.

Pendirinya adalah Ki Ageng Henis yang merupakan keturunan Raja Majapahit Brawijaya V. Maka tak heran jika tinggalan sejarah ini juga sering disebut sebagai Masjid Ki Ageng Henis. Ki Ageng Henis juga merupakan penasihat spiritual Raja Pajang, yakni Sultan Hadiwijoyo.

Ketua Takmir Masjid Laweyan Achmad Sulaiman mengatakan sebelum menjadi tempat peribadatan umat Islam lokasi itu sudah disucikan oleh umat Hindu. Namun lantaran kedekatan Ki Ageng Henis dengan Sunan Kalijaga maka dia pun memeluk Islam dan mendirikan masjid. 

Saat Metrotvnews.com berkunjung ke masjid tersebut, tampak sebuah beduk di bagian depan bangunan utama masjid, "Beduk ini berusia ratusan tahun dan sudah ada sejak masjid didirikan oleh Ki Ageng Henis," kata Sulaiman, Senin (20/06/2016).


Sebuah beduk tua di bagian depan bangunan utama Masjid Laweyan. (Foto: Pythag Kurniati/Metrotvnews.com)

Dahulu, kata Sulaiman, bangunan asli masjid ini menyerupai rumah panggung. Tetapi Pada masa Pakubuwono X masjid mengalami perbaikan dan dibangun menyerupai joglo. 

"Ada bangunan utama atau dalem masjid, masuk lagi ada pendhapi, kemudian gandok atau serambi kanan kiri serta keputren kanan kiri," ujar dia.

Saat masuk ke bagian dalam maka akan ditemukan 12 saka atau pilar. Menurut Sulaiman saka itu berusia ratusan tahun dan masih kuat menopang hingga saat ini. 

"Asalnya dari kayu Keraton Kartasura pada masa Pakubuwono II," kata dia.

Lebih lanjut Sulaiman menceritakan bahwa keberadaan peninggalan sejarah itu tidak dapat dipisahkan dengan berkembangnya Kampung Batik Laweyan. Kala itu, Ki Ageng Henis tak hanya mendirikan masjid namun juga mengajari penduduk lokal membatik. 

"Orang-orang menyebut kawasan ini sebagai Bandar Kabanaran yang kemudian dikenal menjadi Kampung Batik Laweyan,"  kata Sulaiman.

Di bagian depan masjid, mengalir Sungai Jenes. Pada mulanya sungai ini menjadi pusat perdagangan yang menghubungkan kapal-kapal dari Jawa dan luar Jawa. Laweyan tidak hanya dikenal dengan adanya masjid dan batiknya, tapi juga di kampung kecil ini telah lahir banyak tokoh, sebut saja penyokong pergerakan nasional Haji Samanhudi, pendiri Sarekat Dagang Islam (SDI) cikal bakal dari Sarekat Islam.


(SBH)