Lambai, Makanan Sehat Khas Aceh untuk Berbuka Puasa

Nurul Fajri    •    28 Juni 2016 16:54 WIB
ramadan 2016
Lambai, Makanan Sehat Khas Aceh untuk Berbuka Puasa
Samsidar menjual lambai di di Jalan Twk. Daud Syah Peunayong, Banda Aceh (Nurul Fajri/Metrotvnews.com)

Metrotvnews.com, Banda Aceh: Berbahan dasar aneka jenis daun dan lalapan, lambai menjelma sebagai sesuatu yang istimewa kala Ramadan tiba. Bagi warga Kabupaten Pidie, Banda Aceh dan sekitarnya, makanan khas ini juga sering dinamakan sambai petplohpet atau sambai empat puluh empat, sesuai dengan jumlah bahan yang diracik di dalamnya.
 
"Kalau di luar bulan puasa ya (lambai) tidak ada," kata salah satu penjual lambai Samsidar saat ditemui Metrotvnews.com di Jalan Twk. Daud Syah Peunayong, Banda Aceh, Selasa (28/6/2016).

Salah satu alasan yang menjadikan lambai hanya bisa dijumpai pada bulan puasa adalah penggunaan bahan dasarnya berupa daun peugaga. Selain hanya bisa ditemukan di pelosok desa, peugaga juga bukan termasuk tanaman yang bisa tumbuh sepanjang tahun. 


Lambai biasa dijual di berbagai pusat jajanan pasar tradisional di Aceh (Nurul Fajri/Metrotvnews.com)

Penjual lambai lainnya, Rubama, mengatakan untuk saat ini pembuatan lambai tidak mesti melibatkan banyak daun, terlebih harus berjumlah 44 jenis daun sebagaimana awal resep lambai ditemukan nenek moyang. Saat ini, lambai boleh dihidangkan hanya dengan menggunakan campuran daun peugaga, daun jeruk perut, daun delima, daun pucuk mangga, dan daun kedondong. Keseluruhan daun itu dicuci bersih kemudian dicincang hingga halus.

"Lalu daun itu dilumuri kelapa gongseng (sangrai) yang sudah diaduk bersama irisan bawang merah, cabai merah, cabai rawit, akar serai, bulu kala, dan sedikit asam sunti yang juga sudah dihaluskan," kata Rubama.

Lambai bukan sekedar makanan untuk mengenyangkan perut, tapi juga dipercaya memiliki khasiat bagi kesehatan, terutama untuk megobati penyakit batuk dan darah tinggi. Bahkan, kata Rubama mengutip kisah orang-orang dulu, daun-daun yang dimakan itu dipercaya akan bersaksi tentang kebaikan di hadapan Allah SWT pada hari akhirat kelak.

“Rasanya juga tentu enak, apalagi dimakan dengan ie bu peudah (bubur khas Aceh),” kata dia.


(SBH)