Arus Mudik 2017 Dianggap Lebih Baik

Antara    •    30 Juni 2017 16:52 WIB
mudik lebaran 2017
Arus Mudik 2017 Dianggap Lebih Baik
Suasana di Gerbang Tol Brebes Timur (Brexit) di Brebes, Jawa Tengah, Jumat (23/6)--Antara/Akbar Nugroho Gumay

Metrotvnews.com, Jakarta: Penyelenggaraan arus mudik Lebaran 2017 dianggap lebih baik dari tahun lalu. Ada beberapa indikator yang mendasari.

"Pertama, koordinasi antar instansi kementerian/lembaga yang menangani penyelenggaraan mudik berjalan cukup baik dari tahun sebelumnya," kata Pengamat Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) Hendri Satrio saat dihubungi, Jumat 30 Juni 2017.

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dianggap telah bekerja keras memberikan layanan untuk pemudik. Salah satunya dengan mengantisipasi insiden di pintu tol Brebes Exit Timur (Brexit) agar tidak terulang.

Kemenhub terus berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Pekerjaan Rumah (Kementerian PUPR), Korps Lalu Lintas (Korlantas) Mabes Polri dan instansi terkait lainnya. Tindaklanjutnya dengan blusukan  ke beberapa titik yang dianggap rawan terjadinya kepadatan kendaraan dan rawan kecelakaan.

Indikasi selanjutnya, Kemenhub bersama Korlantas melakukan terobosan atau inovasi guna untuk mencegah kemacetan. Tahun ini jalan tol Pemalang hingga Batang bisa digunakan secara fungsional contohnya.

"Salah satunya penggunaan jalan tol fungsional yang seharusnya tidak bisa dipakai, tapi itu tentu sudah dihitung plus minusnya dengan baik," jelas Hendri.

Selain menghindarkan kepadatan kendaraan, lanjut dia, rekayasa lalu lintas yang dilakukan Kemenhub bersama Korlantas. Secara langsung juga menurunkan angka kecelakaan lalu lintas.
Kecelakaan pada arus mudik tahun ini masih terjadi, namun ditekankan dia masih dalam batas kewajaran.

KedaiKOPI yang menggelar survei mengenai penyelenggaraan mudik lebaran pada 6 Juni 2017 lalu mencatat, kesadaran pemudik tahun ini memberikan andil besar bagi kelancaran mudik Lebaran 2017. Di mana mereka mengatur dengan baik soal keputusan waktu mudik dan pilihan moda transportasi.

Pada survei untuk mudik Lebaran 2016 lalu, tercatat 32,3 persen masyarakat yang memilih H-7 untuk mudik. Sementara itu 28,6 persen pada H-3 sebagai waktu untuk mudik.

Tahun ini, tercatat ada 13 persen yang memilih H-7 dan 12,67 persen memilih H-5.

"Pada H-3 sebelum Idulfitri dipilih 30,67 persen pemudik untuk memulai perjalanan," katanya.

Ditambahkan, indikator kelancaran mudik tahun ini juga didukung pengalihan arus lalu lintas, buka/tutup jalan penghubung jalan tol, penambahan jumlah pintu keluar tol dan kepastian semua gardu tol melayani transaksi tunai dan nontunai.

Mengenai program mudik gratis Kemenhub yang bisa mengangkut motor sekaligus pemudik ke beberapa daerah, menurutnya program tersebut baik sekali karena memberikan kemudahan bagi pemudik ke kampung halaman.

Ia mengusulkan Kemenhub perlu melakukan terobosan lagi untuk menekan pemudik menggunakan sepeda motor. Misalnya dengan menggunakan sistem ganjil genap yang sudah diberlakukan di DKI Jakarta dan penggunaan kuota mudik motor.

"Ke depan bisa dibuat lagi terobosannya mungkin dengan menggunakan sistem ganji-genap, kuota perjalanan mudik motor dan sistem stiker," kata Hendri.

Terakhir sebagai masukan arus balik mudik Lebaran 2017, Kemenhub bersama instansi terkait perlu memberikan titik fokus pada perjalanan darat pemudik.

"Jelang mudik kemarin imbauan demi imbauan disampaikan Kemenhub, itu sangat bagus karena masyarakat jadi tahu apa saja yang harus dihindari. Nah pada arus balik kali ini Kemenhub perlu menggencarkan lagi himbauan-himbauan seperti itu," tutup Hendri Satrio.


(YDH)